Rabu, 24 April 2013

Sejarah Perkembangan Pelayanan Kebidanan di Indonesia


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang
Di Indonesia perkembangan bidan tidak terlalu pesat, hal ini dapat dilihat dari sejak di mulainya pelayanan kebidanan dari tahun 1853 sampai saat ini. Perkembangan pelayanan belum dapat mencapai tingkat yang profesional.
Pelayanan kebidanan yang diberikan lebih banyak ditujukan kepada ibu dan anak, baik kesehatan fisik maupun psikologisnya. Ibu dan anak ini berada dalam suatu keluarga yang ada dalam masyarakat. Bidan sebagai pelaksana utama yang memberikan pelayanan kebidanan diharapkan mampu memberikan pelayanan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat.
Bidan muncul sebagai wanita terpercaya dalam mendampingi dan menolong ibui yang melahirkan. Peran dan posisi bidan di masyarakat sangat di hargai dan di hormati karna tugasnya yang sangat mulia, memberi semangat, membesarkan hati, mendampingi serta menolong ibu yang melahirkan sampai ibu dapat merawat bayi nya dengan baik.
Bidan sejak dahulu telah menunjukkan sikap etika moral yang tinggi dan takwa kepada tuhan dengan membela orang – orang yang berada dalam posisi yang lemah.
Bidan sebagai pekerja profesional dalam menjalankan tugas dan prakteknya, bekerja berdasarkan pandangan filosopis yang di anut, keilmuan, metode kerja, standar praktik pelayanan serta kode etik yang dimilikinya.

1.2.       Tujuan Penulisan
Agar pembaca dapat mempelajari dan memahami sejarah perkembangan pelayanan kebidanan yang terjadi dalam lingkup nasional.

1.3.        Rumusan Masalah
Bagaimana sejarah perkembangan pelayanan bidan di Indonesia ?



Text Box: 1
 



BAB II
ISI
2.1.    Sejarah Perkembangan Pelayanan Kebidanan Indonesia
Sejarah pelayanan kebidanan di Indonesia terjadi secara tidak langsung melalui usaha mengurangi angka kematian karena cacar. Pencacaran pertama di Indonesia dilakukan sekitar 1804, setelah Yenner di Inggris menemukan vaksin cacar tahun 1798. Karena tenaga untuk melakukan pencacaran dirasakan terlalu mahal untuk didatangkan dari negeri Belanda, maka didirikanlah Sekolah Dokter Jawa tahun 1851.
Saat itu ilmu kebidanan belum merupakan pelajaran. Baru tahun 1889 oleh ilmu Kebidanan diberikan dengan sukarela. Bila dibandingkan dengan angka kematian akibat cacar, angka kematian ibu bersalin sebenarnya jauh lebih tinggi. Pemerintah Belanda kurang memperhatikan tingginya angka kematian ibu karena tidak berpengaruh terhadap kehadiran Belanda sebagai penjajah.
Bidang pelayanan kebidanan masih memerlukan perhatian. Angka kematian ibu dan pranatal yang tinggi sebagian besar akibat pertolongan persalinan dukun di seluruh Indonesia. Dukun beranak memang belum mampu diganti dalam waktu relatif singkat karena masih mendapat kepercayaan masyarakat. Kematian ibu dan perinatal mempunyai peluang yang sangat besar untuk dihindari.
Pelayanan kebidanan adalah seluruh tugas yang menjadi tanggung jawab praktek  profesi bidan dalam sistem pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan kaum perempuan khususnya ibu dan anak.
Layanan kebidan oleh bidan meliputi:
1.    Layanan kebidanan primer,yakni layanan yang diberikan sepenuhnya atas tanggung jawab bidan.
2.    Layanan kolaborasi,yakni layanan yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota tim secara bersama-sama dengan profesi lain dalam rangka pemberian pelayanan kesehatan.
3.    Layanan kebidanan rujukan yaitu merupakan pengalihan tanggung jawab layanan oleh bidan kepada sistem layanan yang lebih tinggi atau yang lebih kompeten ataupun pengambil alihan tanggung jawab layanan/menerima rujukan dari penolong persalinan lainnya seperti rujukan.
Text Box: 2
 


Pada zaman pemerintahahan Hindia Belanda,angka kematian ibu dan anak sangat tinggi.Tenaga penolong persalinan adalah dukun bayi yang tidak  terlatih secara medis. Pada tahun  1807 yakni pada zaman pemerintahahan Gubernur Jenderal Hendrik William Daendels,para dukun bayi dilatih untuk pertolongan persalinan,akan tetapi hal ini tidak berlanjut karena tidak ada pelatih bidan.
Pada saat itu,pendidikan yang diberikan kepada para dukun bayi cenderung berorientasi pada kesehatan masyarakat,seperti halnya promosi kesehatan masyarakat,seperti halnya promosi kesehatan yang diberikan oleh bidan desa pada para dukun bayi, yakni lebih banyak kecenderungan ilmu kesehatan masyarakat dari pada pelayanan individu mengenai teknik  pelayanan persalinan yang sehat.Tentu saja hal ini akan berbeda bila diberikan pendidikan itu berorientasi pada individu seperti yang dilakukan oleh bidan rumah sakit yang memberikan pelayanan poliklinik, antenatal, gangguan kesehatan reproduksi di poliklinik keluarga berencana, senam hamil, pendidikan perinatal, kamar bersalin, kamar bersalin, kamar operasi kebidanan, ruang nifas dan ruang perinatal.
Perkembangan pelayanan kebidanan berkembang pesat dari tahun ke tahun,demikian rupa sehingga sampai pada suatu titik tolak baru, sejak adanya konferensi kependudukan Dunia di Kairo pada tahun 1994. Pada konferensi itu diputuskan adanya penekanan pada reproductive health (kesehatan reproduksi), yang oleh karenanya memperluas area garapan pelayanan bidan.
Area tersebut ialah :
1.    Safe motherhood, termasuk bayi baru lahir dan perawatan abortus.
2.    Family planning.
3.    Penyakit menular seksual termasuk infeksi saluran alat reproduksi.
4.    Kesehatan Reproduksi Remaja.
5.    Kesehatan Reproduksi pada orang tua.
Dalam hal ini di dalam melaksanakan peran fungsi dan tugasnya, seorang bidan harus didasarkan pada kemampuan dan kewenangan yang diberikan. Kewenangan tersebut diatur melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes), yang menyangkut wewenang bidan. Sedangkan wewenang bidan tersebut selalu mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat dan kebijakan pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Text Box: 3
 




Permenkes tersebut adalah secara urut sebagai berikut :
a.    Permenkes No. 5380/1/1963, wewenang bidan terbatas pada pertolongan persalinan normal secara mandiri, didampingi tugas lain.
b.    Permenkes No. 363/IX/1989, dalam hal ini wewenang bidan dibagi menjadi dua yakni wewenang umum dan wewenang khusus, yang ditetapkan bila bidan melaksanakan tindakan khusus di bawah pengawasan dokter Pelaksanaan dari Permenkes ini, yakni bahwa bidan dalam pelaksanaan praktek perorangan dibawah pengawasan dokter.
c.    Permenkes No. 572/VI/1996, di sini wewenang mengatur tentang registrasi dan praktek bidan. Bidan dalam pelaksanaan prakteknya diberi kewenanga yang bersifat mandiri. Kewenangan tersebut disertai dengan kemampuan dalam melaksakan tindakan.
Dalam wewenang tersebut mencakup :
1.    Pelayanan kebidanan yang meliputi pelayanan ibu dan anak, yakni :
a)    Pelayanan Keluarga Berencana.
b)    Pelayanan Kesehatan Masyarakat
d.    Kepmenkes No. 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang registrasi dan praktek bidan revisi dan permenkes No. 572/VI/1996.
Di dalam melaksakan tugasnya, bidan harus melakukan kolaborasi, konsultasi dan merujuk, sesuai dengan kondisi pasien, kewenangan dan kemampuannya.
Di dalam keadaan darurat bidan juga diberi wewenang melakukan pelayanan kebidanan yang bertujuan untuk menyelamatkan jiwa pasien. Di dalam aturan tersebut juga di tegaskan bahwa bidan di dalam melaksanakan praktek harus sesuai dengan kewenangan, kemampuan, pendidikan, pengalaman serta berdasarkan standar profesi.
Pencapaian kemampuan bidan sesuai dengan Kepmenkes No. 900/2000 tidaklah mudah, karena kewenangan yang diberikan Departemen Kesehatan ini mengandung tuntutan akan kemampuan bidan sebagai tegana professional dan mandiri.



Text Box: 4
 




Salah satu faktor yang menyebabkan terus berkembangnya pelayanan kebidanan di Indonesia adalah masih tingginya mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin, mengingat hal itu, maka penting bagi bidan untuk untuk mengetahui sejarah perkembangan pelayanan kebidanan karena bidan sebagai tenaga terdepan dan utama dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi diberbagai catatan pelayanan wajib mengikuti perkembangan IPTEK dan menambah ilmu pengetahuannya melalui pendidikan formal atau non formal dan bidan berhak atas kesempatan untuk meningkatkan diri baik melalui pendidikan maupun pelatihan.

























Text Box: 5
 




BAB III
PENUTUP

3.1.       Kesimpulan
Sejarah perkembangan pelayanan kebidanan di Indonesia setiap waktu mengalami perkembangan, baik suatu kemajuan atau justru suatu kemunduran. Setiap perkembangan memiliki alasan tersendiri, mengapa mengalami kemajuan dan kemunduran. Perkembangan pelayanan kebidanan di Indonesia tidak lepas dari masa penjajahan belanda, era kemerdekaan, politik/kebijakan pemerintah dalam pelayanan tenaga kesehatan, kebutuhan masyarakat  serta kemajuan ilmu dan teknologi. Perkembangan kebidanan bertujuan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak.
Manfaat  dari belajar sejarah kebidanan yaitu dapat mengetahui keadaan jaman dahulu, membandingkankan jaman dahulu dengan sekarang, memilih dengan praktik dan pengalaman masa lampau apa yang baik dan membuang yang kurang baik,mengetahui perkembangan praktik kebidanan hingga didapatkan kondisi yang sekarang.


3.2.       Kritik & Saran
Dengan kerendahan hati penulis, penulis sadar bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan baik dari segi kata maupun isi. Demi kesempurnaan makalah penulis mengharapkan kritikan dan saran untuk menyempurnakan makalah ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar